Senin, 12 Januari 2009

LANTANA, COCOK BUAT ANAK-ANAK YANG TERKENA BATUK DAN EFEKTIF MENGUSIR NYAMUK

Lantana, mungkin masih terdengar asing. Tetapi bagi sebagian orang, Lantana sering juga disebut tembelekan. Orang pun menganggap ini tanaman pagar, tanaman yang tidak ada gunanya, apalagi dikategorikan sebagai tanaman hias. Masih sedikit orang yang tahu, kalau ternyata Lantana banyak fungsinya sebagai obat alternatif.

Warna-warna bunga Lantana berukuran kecil dan sangat beraneka ragam. Warna bunga Lantana tidak hanya satu warna, tetapi bermacam-macam warna. Kombinasi dari warna kuning, ungu, dan putih. Warna bunganya terlihat indah dan semarak.

Daun Lantana berbentuk sedikit bulat, berukuran kecil serta bergerigi. Pangkal daunnya tumpul, berujung runcing dan memiliki banyak cabang. Permukaan daun bagian atas berbulu kasar sedangkan bagian bawahnya berbulu jarang. Panjang daunnya sebesar 5-8 sentimeter, dengan lebar 3-5 sentimeter. Lantana juga mempunyai batang yang berduri dan tumbuh rimbun dan perdu.

Sebenarnya, tanaman Lantana merupakan tanaman semak-semak. Tanaman yang berasal dari Amerika ini memiliki percabangan yang banyak dan tingginya mencapai lebih dari 2 meter. Tanaman Lantana hybrid memiliki bentuk batang segi empat dan batang yang muda memiliki sedikit bulu halus.

Tanaman ini bisa tumbuh dimana saja sehingga bisa dikenal sebagai tanaman kosmopolit. Lantana menyukai kondisi hangat dengan suhu minimal 550F ini termasuk tanaman yang toleran denga sinar matahari langsung. Ia yang termasuk famili Verbenaceae merupakan bunga majemuk. Bunganya muncul diketiak daun dan memiliki ukuran tangkai bunga 5-13 milimeter. Lantana berbunga hampir setiap tahunnya.

Dan yang pasti, tanaman Lantana juga mempunyai fungsi sebagai tanaman obat seperti penyakit influenza, TBC, gatal-gatal, bisul, dan reumatik. Padas tanaman Lantana terkandung antannina, minyak atsiri, minyak lemak, asam lantanilat dan asam lantabetulat. Hasil penelitian di laboratorium Eisei di Tsukuba, Jepang, terhadap beberapa tumbuhan obat Indonesia (TOI) menunjukkan indikasi reaksi pengendalian gangguan penyakit hati. Penelitian tersebut menunjukkan, Tembelekan atau Lantana Camara termasuk juga jahe (Zingiber officinalis), kayu putih (Malaleuca leucodendron) dan sindur (Sindora glabra), yang mengandung minyak atsiri dengan komponen alfa-kariofilena.

Dalam farmakologi Cina, Lantana memiliki bunga yang berasa manis. Bunganya yang indah bisa mengobati sakit kulit, bisul, radang kulit, gatal-gatal, perangsang muntah pada keracunan makanan, memar, luka, keseleo, panas tinggi, dan lain-lain. Sedangkan akarnya yang berasa tawar, bisa berguna untuk penyakit TBC kelenjar (skrofuloderma), gondongan (parotitis, mums), rematik, keseleo, memar, keputihan, obat influenza, penawar racun, penurun panas, penghilang racun, kencing nanah (gonore), sakit kulit yang berkaitan dengan gangguan emosi (neurodermatitis).

Bagaimana dengan daunnya ?, meski daunnya terasa pahit, berbau dan agak beracun, namun daun Lantana memiliki khasiat untuk menghilangkan gatal (antipruritus), menghilangkan bengkak, penawar racun, dan TBC dengan batuk darah.

Prof Hembing dalam bukunya ”Ensiklopedia Milenium : Tumbuhan Berkhasiat Obat Indonesia”, menyebutkan bahwa tanaman Lantana dapat digunakan sebagai obat luar dan obat dalam. Pemakaian Lantana diukur dengan dosis yang secukupnya. Jika digunakan sebagai obat luar, Lantana diambil secukupnya setelah itu dihaluskan. Lantana yang telah dihaluskan kemudian ditempelkan pada tubuh yang sakit.

Pengobatan dengan Lantana halus ini, berkhasiat untuk bagian tubuh luar yang memar, bengkak-bengkak, luka berdarah bisul dan penyakit kulit. Olesan Lantana diganti setiap 2 sampai 3 kali sehari. Lantana juga dapat menghilangkan penyakit rematik. Caranya yaitu dengan mencampur daun Lantana segar dengan jahe merah yang direbus dengan air secukupnya. Rebusan airnya ditambah dengan air dingin agar terasa hangat. Kemudian, ramuan tersebut dipakai untuk mandi.

Hal yang hampir serupa juga dilakukan untuk mengobati penyakit radang kulit, eksim dan jamur kulit. Seluruh tumbuhan Lantana ditambah dengan sambiloto dan daun ketepeng cina direbus dengan air secukupnya hingga mendidih. Saat air terasa hangat, ramuan tersebut dipakai untuk mencuci bagian tubuh yang sakit.

Penggunaan Lantana sebagai pengobatan dalam yaitu dengan merebus 15 gram hingga 30 gram akar kering dan daun kering, 6 gram hingga 10 gram bunga Lantana kering. Usai direbus, airnya kemudian diminum.

Penyakit TBC pun dapat diatasi dengan Lantana. Penyakit batuk darah ini, dapat diobati dengan menggunakan 5 gram hingga 10 gram bunga Lantana kering, 60 gram akar alang-alang, 15 gram kencur, dan gula batu secukupnya. Bahan-bahan tersebut kemudian direbus dengan menggunakan 600 cc air sehingga air berkurang 300 cc. Rebusan bahan kemudian disaring dan airnya diminum.

Batuk pada anak-anak juga dapat diobati dengan Lantana. Caranya, yaitu dengan merebus 10 gram bunga Lantana kering, 30 gram kaktus yang telah dikupas kulitnya, 3 lembar daun sirih, dan madu secukupnya. Bahan-bahan tersebut direbus dengan menggunakan air bersih 500 cc hingga air tersisa 200 cc. Air rebusan disaring kemudian diminumkan pada si anak.

Influenza yang mudah menyerang siapa saja ini dapat diobati dengan rebusan Lantana. Caranya, 30 gram daun Lantana dan 15 gram jahe direbus dengan menggunakan air sebanyak 400 cc hingga air rebusan tersisa 200 cc. Lalu, air rebusan disaring dan diminum selagi hangat. Ramuan tersebut diminum sebanyak dua kali sehari.

Meski tanaman ini bermanfaat untuk kesehatan, namun pemakaian dalam dosis yang berlebihan akan menyebabkan pusing dan muntah. Wanita hamilpun tidak dianjurkan meminum rebusan Lantana. Pasalnya, menurut Atlas Tumbuhan Obat Indonesia, rebusan Lantana yang diminum ibu hamil akan menyebabkan kematian pada janin.

Tanaman yang dikatakan sebagai gulma ini memiliki biji. Bijinya akan keluar setelah berbunga. Sedangkan buahnya berwarna hijau dan berwarna ungu kehitam-hitaman jika tua. Buah Lantana sedikit beracun saat muda. Bentuk buahnya bulat, kecil, dan bergaris tengah 4-6 milimeter. Buahnya hanya satu dan biasa menjadi makanan burung-burung dan ulat.

Beberapa jenis Lantana liar yang netral dari racun sudah tersebar di negara-negara di Asia Selatan, Afrika Selatan, Australia dan Austria. Beberapa jenisnya adalah Lantana yang sering dijual dan sering ditanam di taman, seperti Lantana Camara dan Lantana Montevidensis.

Lantana Camara biasa tumbuh di alam tropis Indonesia. Tanaman perdu ini biasanya menghiasi tanaman luar yang langsung terkena sinar matahari. Tanaman ini tidak sulit dalam perawatannya karena peka dengan kondisi hangat suhu minimal 550F.

Meski tanaman semak ini berbau tidak sedap, tanaman Lantana jenis Camara merupakan salah satu tanaman pengusir nyamuk (repllent). Prakteknya, tempatkan saja tanaman ini di sekitar tempat-tempat perindukan nyamuk atau ditanam di pekarangan rumah.

AGROFORESTRI SEBAGAI USAHA PENINGKATAN PRODUKTIVITAS LAHAN DI INDONESIA

Sebagian besar hutan alam di Indonesia termasuk dalam hutan hujan tropis. Banyak para ahli yang mendiskripsi hutan hujan tropis sebagai ekosistem spesifik, yang hanya dapat berdiri mantap dengan keterkaitan antara komponen penyusunnya sebagai kesatuan yang utuh. Keterkaitan antara komponen penyusun ini memungkinkan bentuk struktur hutan tertentu yang dapat memberikan fungsi tertentu pula seperti stabilitas ekonomi, produktivitas biologis yang tinggi, siklus hidrologis yang memadai dan lain-lain.

Penanaman berbagai macam pohon dengan atau tanpa tanaman setahun (semusim) pada lahan yang sama sudah sejak lama dilakukan petani di Indonesia. Contoh ini dapat dilihat dengan mudah pada lahan pekarangan di sekitar tempat tinggal petani. Praktek ini semakin meluas belakangan ini khususnya di daerah pinggiran hutan dikarenakan ketersediaan lahan yang semakin terbatas.

Konversi hutan alam menjadi lahan pertanian ini, disadari menimbulkan banyak masalah seperti penurunan kesuburan tanah, erosi, kepunahan flora dan fauna, banjir, kekeringan dan bahkan perubahan lingkungan global. Masalah ini bertambah berat dari waktu ke waktu sejalan dengan meningkatnya luas areal hutan yang dikonversi menjadi lahan usaha lain. Maka lahirlah agroforestri sebagai suatu cabang ilmu pengetahuan baru di bidang pertanian atau kehutanan. Ilmu ini berupaya mengenali dan mengembangkan keberadaan sistem agroforestri yang telah dikembangkan petani di daerah beriklim tropis maupun beriklim subtropis sejak berabad-abad yang lalu.

Agroforestri merupakan gabungan ilmu kehutanan dengan agronomi, yang memadukan usaha kehutanan dengan pembangunan pedesaan untuk menciptakan keselarasan antara intensifikasi pertanian dan pelestarian hutan (Bene, 1977; King 1978; King, 1979).

Alih fungsi lahan hutan menjadi lahan pertanian disadari menimbulkan banyak masalah seperti penurunan kesuburan tanah, erosi, kepunahan flora dan fauna, banjir, kekeringan dan bahkan perubahan lingkungan global. Masalah ini bertambah berat dari waktu ke waktu sejalan dengan meningkatnya luas areal hutan yang dikonversikan menjadi lahan usaha lain. Agroforestri adalah salah satu sistem pengelolaan lahan yang mungkin dapat ditawarkan untuk mengatasi masalah yang timbul akibat adanya alih fungsi lahan tersebut dan sekaligus untuk mengatasi masalah ketersediaan pangan.

Konsepsi “agroforestry” dirintis oleh suatu tim dari Canadian International Development Centre, yang bertugas untuk mengindentifikasi prioritas-prioritas pembangunan di bidang kehutanan di negara-negara berkembang dalam tahun 1970-an. Oleh tim ini dilaporkan bahwa hutan-hutan di negara tersebut belum cukup dimanfaatkan. Penelitian yang dilakukan di bidang kehutanan pun sebagian besar hanya ditujukan kepada dua aspek produksi kayu, yaitu eksploitasi secara selektif di hutan alam dan tanaman hutan secara terbatas.

Untuk itu, agroforestri diharapkan bermanfaat selain untuk mencegah perluasan tanah terdegradasi, melestarikan sumberdaya hutan, meningkatkan mutu pertanian serta menyempurnakan intensifikasi dan diversifikasi silvikultur. Agroforestri dapat dikelompokkan menjadi dua sistem, yaitu sistem agroforestri sederhana dan sistem agroforestri kompleks.

Sistem agroforestri sederhana adalah suatu sistem pertanian dimana pepohonan ditanam secara tumpang-sari dengan satu atau lebih jenis tanaman semusim. Pepohonan bisa ditanam sebagai pagar mengelilingi petak lahan tanaman pangan, secara acak dalam petak lahan, atau dengan pola lain misalnya berbaris dalam larikan sehingga membentuk lorong/pagar. Jenis-jenis pohon yang ditanam juga sangat beragam, bisa yang bernilaiekonomi tinggi misalnya kelapa, karet, cengkeh, kopi, kakao (coklat), nangka, melinjo, petai, jati dan mahoni atau yang bernilai ekonomi rendah seperti dadap, lamtoro dan kaliandra. Jenis tanaman semusim biasanya berkisar pada tanaman pangan yaitu padi (gogo), jagung, kedelai, kacang-kacangan, ubi kayu, sayur-sayuran dan rerumputan atau jenis-jenis tanaman lainnya.

Sistem agroforestri kompleks, adalah suatu sistem pertanian menetap yang melibatkan banyak jenis tanaman pohon (berbasis pohon) baik sengaja ditanam maupun yang tumbuh secara alami pada sebidang lahan dan dikelola petani mengikuti pola tanam dan ekosistem menyerupai hutan.

Keunggulan agroforestri dibandingkan sistem penggunaan lahan lainnya, yaitu dalam hal:

1. Produktivitas (Productivity): Dari hasil penelitian dibuktikan bahwa produk total sistem campuran dalam agroforestri jauh lebih tinggi dibandingkan pada monokultur (penanaman satu jenis). Adanya tanaman campuran memberikan keuntungan, karena kegagalan satu komponen/jenis tanaman akan dapat ditutup oleh keberhasilan komponen/jenis tanaman lainnya.

2. Diversitas (Diversity): Adanya pengkombinasian dua komponen atau lebih daripada sistem agroforestri menghasilkan diversitas (keragaman) yang tinggi, baik menyangkut produk maupun jasa. Dengan demikian dari segi ekonomi dapat mengurangi risiko kerugian akibat fluktuasi harga pasar. Sedangkan dari segi ekologi dapat menghindarkan kegagalan fatal pemanen sebagaimana dapat terjadi pada penanaman satu jenis (monokultur).

3. Kemandirian (Self-regulation): Diversifikasi yang tinggi dalam agroforestri diharapkan mampu memenuhi kebutuhan pokok masyarakat, dan petani kecil dan sekaligus melepaskannya dari ketergantungan terhadap produk produk luar. Kemandirian sistem untuk berfungsi akanlebih baik dalam arti tidak memerlukan banyak input dari luar (pupuk dan pestisida), dengan diversitas yang lebih tinggi daripada sistem monokultur.

4. Stabilitas (Stability): Praktek agroforestri yang memiliki diversitas dan produktivitas yang optimal mampu memberikan hasil yang seimbang sepanjang pengusahaan lahan, sehingga dapat menjamin stabilitas dan kesinambungan pendapatan petani.

Selain itu, peningkatan produktivitas sistem agroforestri dapat dilakukan melalui diversifikasi hasil dari komponen yang bermanfaat, dan menurunkan jumlah masukan atau biaya produksi. Contoh upaya penurunan masukan dan biaya produksi yang dapat diterapkan dalam sistem agroforestri yaitu penggunaan pupuk nitrogen dapat dikurangi dengan pemberian pupuk hijau dari tanaman yang bersimbiosis dengan bakteri penambat nitrogen. Kandungan nitrogen di udara sebanyak ± 78%, tetapi nitrogen ini tidak dapat langsung dimanfaatkan oleh tanaman. Tanaman tertentu bersimbiosis dengan bakteri penambat Nitrogen Rhizobium dan Frankia yang mampu mengikat nitrogen dari udara dan menyediakannya bagi kebutuhan tanaman.

Agar dapat meningkatkan produktivitas lahan terutama lahan pertanian di Indonesia saat ini, maka juga berkaitan dengan faktor kesuburan tanah pada lahan tersebut. Dalam sistem agroforestri terdapat interaksi ekologis dan ekonomis antara komponen-komponen yang berbeda. Agroforestri ditujukan untuk memaksimalkan penggunaan energi matahari, meminimalkan hilangnya unsurhara di dalam sistem, mengoptimalkan efesiensi penggunaan air dan meminimalkan runoff serta erosi. Dengan demikian mempertahankan manfaat-manfaat yang dapat diberikan oleh tumbuhan berkayu tahunan (perennial) setara dengan tanaman pertanian konvensional dan juga memaksimalkan keuntungan keseluruhan yang dihasilkan dari lahan sekaligus mengkonservasi dan menjaganya.

Dari semua uraian tentang agroforestri diatas, sayangnya sekarang ini sistem agroforestri sepertinya hanya diterapkan oleh petani-petani kecil. Usaha-usaha agroforestri kebanyakan bisa ditemukan di sekitar pemukiman penduduk. Sekeliling rumah merupakan tempat yang cocok untuk melindungi dan membudidayakan tumbuhan hutan, karena memudahkan pengawasannya. Kebun-kebun pekarangan (homegarden) memadukan berbagai sumber daya tanaman asal hutan dengan jenis-jenis tanaman eksotis yang bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari, seperti buah-buahan, sayuran dan tanaman untuk penyedia bumbu dapur (Bhs. Jawa : empon-empon), serta tanaman obat. Oleh karena itu, saat ini sebaiknya penerapan terhadap sistem agroforestri agar lebih ditingkatkan. sistem ini, tidak hanya diterapkan oleh para petani-petani kecil saja melainkan dilakukan dalam skala besar agar hasil yang diperoleh nantinya dapat maksimal sehingga dapat meningkatkan produktivitas lahan di Indonesia secara maksimal.